SAMARINDA (01/09/2026) — Politeknik Pertanian Negeri Samarinda (Politani Samarinda) terus memperkuat kontribusinya dalam pengembangan pendidikan vokasi, riset terapan, dan inovasi pertanian untuk mendukung ketahanan pangan. Komitmen tersebut diwujudkan melalui keikutsertaan Haryatie Sarie, S.P., M.P., akademisi sekaligus peneliti Politani Samarinda, dalam pelatihan internasional yang diselenggarakan oleh World Food Programme (WFP).
Haryatie Sarie terpilih mengikuti program “Empowering Smallholders for Food Security and Resilience: Online Training on Post-harvest Loss Management Technologies for Smallholders” yang diselenggarakan oleh WFP Centre of Excellence for Rural Transformation (WFP China COE) bekerja sama dengan China Agricultural University (CAU). Pelatihan dilaksanakan secara daring sepanjang September 2026.
Keikutsertaan ini menjadi kesempatan strategis bagi Politani Samarinda untuk memperluas jejaring internasional sekaligus meningkatkan kapasitas dosen dalam bidang teknologi pascapanen. Pengetahuan yang diperoleh diharapkan dapat dikembangkan lebih lanjut melalui pembelajaran, riset terapan, dan pengabdian kepada masyarakat.
Menjawab Tantangan Kerugian Pascapanen
Penguatan teknologi pascapanen menjadi bagian penting dalam upaya membangun sistem pangan yang tangguh dan berkelanjutan. Selain meningkatkan produksi, upaya menjaga kualitas hasil pertanian setelah panen diperlukan untuk mengurangi kehilangan pangan, mempertahankan mutu, serta meningkatkan nilai ekonomi yang diterima petani.
Persoalan tersebut semakin penting bagi petani kecil yang masih menghadapi berbagai keterbatasan dalam akses terhadap teknologi dan sarana penyimpanan. Karena itu, peningkatan kapasitas sumber daya manusia dan penguasaan teknologi pascapanen menjadi salah satu langkah strategis dalam mendukung ketahanan pangan.
Melalui program WFP ini, Haryatie Sarie memperoleh kesempatan untuk memperdalam pengetahuan mengenai teknologi pengelolaan kerugian pascapanen sekaligus mempelajari praktik dan pengalaman internasional yang relevan untuk dikembangkan dalam konteks pertanian Indonesia.
Empat Pilar Materi Unggulan
Pelatihan yang dipandu oleh Prof. Liu Yanhong dari China Agricultural University (CAU) tersebut mencakup empat materi utama yang dilaksanakan pada September 2026, yaitu:
Haryatie Sarie terpilih mengikuti program “Empowering Smallholders for Food Security and Resilience: Online Training on Post-harvest Loss Management Technologies for Smallholders” yang diselenggarakan oleh WFP Centre of Excellence for Rural Transformation (WFP China COE) bekerja sama dengan China Agricultural University (CAU). Pelatihan dilaksanakan secara daring sepanjang September 2026.
Keikutsertaan ini menjadi kesempatan strategis bagi Politani Samarinda untuk memperluas jejaring internasional sekaligus meningkatkan kapasitas dosen dalam bidang teknologi pascapanen. Pengetahuan yang diperoleh diharapkan dapat dikembangkan lebih lanjut melalui pembelajaran, riset terapan, dan pengabdian kepada masyarakat.
Menjawab Tantangan Kerugian Pascapanen
Penguatan teknologi pascapanen menjadi bagian penting dalam upaya membangun sistem pangan yang tangguh dan berkelanjutan. Selain meningkatkan produksi, upaya menjaga kualitas hasil pertanian setelah panen diperlukan untuk mengurangi kehilangan pangan, mempertahankan mutu, serta meningkatkan nilai ekonomi yang diterima petani.
Persoalan tersebut semakin penting bagi petani kecil yang masih menghadapi berbagai keterbatasan dalam akses terhadap teknologi dan sarana penyimpanan. Karena itu, peningkatan kapasitas sumber daya manusia dan penguasaan teknologi pascapanen menjadi salah satu langkah strategis dalam mendukung ketahanan pangan.
Melalui program WFP ini, Haryatie Sarie memperoleh kesempatan untuk memperdalam pengetahuan mengenai teknologi pengelolaan kerugian pascapanen sekaligus mempelajari praktik dan pengalaman internasional yang relevan untuk dikembangkan dalam konteks pertanian Indonesia.
Empat Pilar Materi Unggulan
Pelatihan yang dipandu oleh Prof. Liu Yanhong dari China Agricultural University (CAU) tersebut mencakup empat materi utama yang dilaksanakan pada September 2026, yaitu:
- 1 September 2026: Fruits and Vegetables Preservation and Storage Technologies — teknologi pengawetan dan penyimpanan buah serta sayuran.
- 3 September 2026: Fruit and Vegetable Drying Technologies — teknologi pengeringan buah dan sayuran.
- 8 September 2026: Emergency Grain and Oil Storage and In-Store Drying Technologies — teknologi penyimpanan darurat dan pengeringan dalam gudang untuk biji-bijian dan komoditas minyak.
- 10 September 2026: Aflatoxin Prevention and Control Technologies for Grain and Oil — teknologi pencegahan dan pengendalian aflatoksin pada biji-bijian dan komoditas minyak.
Keempat materi tersebut memberikan penguatan kompetensi yang mencakup aspek pengawetan, penyimpanan, pengeringan, serta keamanan hasil pertanian, yang memiliki relevansi langsung dengan pengembangan teknologi pascapanen.
Pengetahuan Global untuk Dampak Lokal
Haryatie Sarie menyampaikan bahwa keikutsertaannya dalam pelatihan WFP menjadi kesempatan penting untuk memperoleh pengetahuan mengenai teknologi pascapanen yang aplikatif dan relevan dengan kebutuhan di lapangan.
“Kesempatan ini sangat berharga untuk mempelajari teknologi pascapanen yang tepat guna dan relevan dengan tantangan lapangan di daerah kita. Harapan saya, pengetahuan dari WFP ini dapat segera diterapkan melalui riset terapan dan pengabdian masyarakat untuk membantu petani lokal menekan tingkat kerusakan hasil panen,” ujar Haryatie Sarie.
Pengetahuan yang diperoleh diharapkan dapat ditransfer ke lingkungan akademik Politani Samarinda dan dikembangkan menjadi bagian dari proses pembelajaran, pengembangan riset terapan, maupun program pengabdian kepada masyarakat.
Dengan demikian, peningkatan kapasitas dosen melalui forum internasional tidak hanya memberikan manfaat bagi individu, tetapi juga memperkuat ekosistem pengetahuan dan inovasi di lingkungan perguruan tinggi.
Perkuat Pendidikan Vokasi Pertanian
Partisipasi Politani Samarinda dalam program internasional WFP menjadi bagian dari upaya memperkuat pendidikan vokasi yang adaptif terhadap perkembangan teknologi dan kebutuhan sektor pertanian.
Penguasaan teknologi pascapanen diharapkan dapat mendukung pengembangan kompetensi mahasiswa sekaligus membuka peluang riset dan inovasi yang berorientasi pada penyelesaian persoalan nyata. Pengetahuan tersebut juga dapat menjadi dasar dalam pengembangan teknologi tepat guna yang sesuai dengan karakteristik komoditas dan kebutuhan petani.
Melalui penguatan kompetensi, kolaborasi internasional, dan hilirisasi pengetahuan, Politani Samarinda terus mendorong pendidikan vokasi yang tidak hanya menghasilkan lulusan kompeten, tetapi juga menghadirkan solusi dan dampak nyata bagi masyarakat, sektor pertanian, dan ketahanan pangan Indonesia.
Keikutsertaan dosen dalam pelatihan WFP menjadi salah satu wujud komitmen Politani Samarinda untuk menghubungkan pengetahuan global dengan kebutuhan lokal, sehingga inovasi yang dikembangkan di perguruan tinggi dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat. (Humas Politani Samarinda/Puskom)
Pengetahuan Global untuk Dampak Lokal
Haryatie Sarie menyampaikan bahwa keikutsertaannya dalam pelatihan WFP menjadi kesempatan penting untuk memperoleh pengetahuan mengenai teknologi pascapanen yang aplikatif dan relevan dengan kebutuhan di lapangan.
“Kesempatan ini sangat berharga untuk mempelajari teknologi pascapanen yang tepat guna dan relevan dengan tantangan lapangan di daerah kita. Harapan saya, pengetahuan dari WFP ini dapat segera diterapkan melalui riset terapan dan pengabdian masyarakat untuk membantu petani lokal menekan tingkat kerusakan hasil panen,” ujar Haryatie Sarie.
Pengetahuan yang diperoleh diharapkan dapat ditransfer ke lingkungan akademik Politani Samarinda dan dikembangkan menjadi bagian dari proses pembelajaran, pengembangan riset terapan, maupun program pengabdian kepada masyarakat.
Dengan demikian, peningkatan kapasitas dosen melalui forum internasional tidak hanya memberikan manfaat bagi individu, tetapi juga memperkuat ekosistem pengetahuan dan inovasi di lingkungan perguruan tinggi.
Perkuat Pendidikan Vokasi Pertanian
Partisipasi Politani Samarinda dalam program internasional WFP menjadi bagian dari upaya memperkuat pendidikan vokasi yang adaptif terhadap perkembangan teknologi dan kebutuhan sektor pertanian.
Penguasaan teknologi pascapanen diharapkan dapat mendukung pengembangan kompetensi mahasiswa sekaligus membuka peluang riset dan inovasi yang berorientasi pada penyelesaian persoalan nyata. Pengetahuan tersebut juga dapat menjadi dasar dalam pengembangan teknologi tepat guna yang sesuai dengan karakteristik komoditas dan kebutuhan petani.
Melalui penguatan kompetensi, kolaborasi internasional, dan hilirisasi pengetahuan, Politani Samarinda terus mendorong pendidikan vokasi yang tidak hanya menghasilkan lulusan kompeten, tetapi juga menghadirkan solusi dan dampak nyata bagi masyarakat, sektor pertanian, dan ketahanan pangan Indonesia.
Keikutsertaan dosen dalam pelatihan WFP menjadi salah satu wujud komitmen Politani Samarinda untuk menghubungkan pengetahuan global dengan kebutuhan lokal, sehingga inovasi yang dikembangkan di perguruan tinggi dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat. (Humas Politani Samarinda/Puskom)