KUTAI KARTANEGARA (10/09/2026) — Politeknik Pertanian Negeri Samarinda (Politani Samarinda) memperkuat kontribusinya dalam mendukung peningkatan produktivitas dan ketahanan pangan Kalimantan Timur melalui penerapan inovasi teknologi pertanian dan penguatan kelembagaan petani.
Melalui demplot bioinvigorasi benih terintegrasi sistem Low External Input Sustainable Agriculture (LEISA) di Gapoktan Mandiri, Desa Sidomulyo, Kecamatan Anggana, Kabupaten Kutai Kartanegara, produktivitas padi meningkat dari 4,80 ton menjadi 6,95 ton gabah kering panen (GKP) per hektare, atau naik 44,83% dibandingkan musim tanam pertama 2026.
Capaian tersebut menjadi bukti bahwa inovasi berbasis teknologi dan pemanfaatan sumber daya lokal dapat memberikan dampak nyata terhadap peningkatan produksi padi secara berkelanjutan. Bioinvigorasi benih memanfaatkan mikroba potensial untuk meningkatkan vigor benih, sementara sistem LEISA mengoptimalkan sumber daya lokal untuk mendukung kesehatan tanah dan tanaman.
Direktur Politani Samarinda Hamka, S.TP., M.Sc., M.P., menegaskan bahwa perguruan tinggi vokasi memiliki peran strategis dalam menghadirkan teknologi yang mampu menjawab persoalan nyata petani.
Melalui demplot bioinvigorasi benih terintegrasi sistem Low External Input Sustainable Agriculture (LEISA) di Gapoktan Mandiri, Desa Sidomulyo, Kecamatan Anggana, Kabupaten Kutai Kartanegara, produktivitas padi meningkat dari 4,80 ton menjadi 6,95 ton gabah kering panen (GKP) per hektare, atau naik 44,83% dibandingkan musim tanam pertama 2026.
Capaian tersebut menjadi bukti bahwa inovasi berbasis teknologi dan pemanfaatan sumber daya lokal dapat memberikan dampak nyata terhadap peningkatan produksi padi secara berkelanjutan. Bioinvigorasi benih memanfaatkan mikroba potensial untuk meningkatkan vigor benih, sementara sistem LEISA mengoptimalkan sumber daya lokal untuk mendukung kesehatan tanah dan tanaman.
Direktur Politani Samarinda Hamka, S.TP., M.Sc., M.P., menegaskan bahwa perguruan tinggi vokasi memiliki peran strategis dalam menghadirkan teknologi yang mampu menjawab persoalan nyata petani.
“Dengan menggunakan bioinvigorasi melalui sistem LEISA, produktivitas padi sawah pada demplot Gapoktan Mandiri meningkat menjadi 6,95 ton per hektare atau naik sekitar 44,83%,” ujar Hamka.
Kegiatan ini dilaksanakan melalui tim Politani Samarinda yang terdiri atas empat dosen, dengan pembagian tugas pada dua bidang utama. Bidang peningkatan produksi melibatkan Rusmini, S.P., M.P. dan La Mudi, S.P., M.P., sedangkan penguatan kelembagaan Gapoktan didampingi Andi Lelanovita Sardianti, S.P., M.M. dan Muhamad Yazid Bustomi, S.P., M.Sc.
Pendampingan tidak hanya berfokus pada peningkatan produksi, tetapi juga memperkuat kapasitas kelembagaan Gapoktan Mandiri yang memiliki 623 petani, 40 kelompok tani, dan 126 hektare lahan. Hasil pendampingan menunjukkan perbaikan dalam tata kelola organisasi, administrasi, SOP, kapasitas SDM, pengelolaan aset dan UPJA, kemitraan, serta akses pasar.
Pengembangan demplot tersebut juga diperkuat melalui kolaborasi dengan Bank Indonesia (BI) Provinsi Kalimantan Timur. Kepala Perwakilan BI Provinsi Kalimantan Timur Jajang Hermawan turut hadir dalam kegiatan panen dan peninjauan demplot, bersama jajaran pemerintah daerah dan pemangku kepentingan terkait.
Kolaborasi lintas sektor ini menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem pertanian yang tidak hanya berorientasi pada peningkatan produksi, tetapi juga pada penguatan kapasitas petani dan keberlanjutan usaha tani.
Capaian demplot Politani Samarinda juga sejalan dengan upaya Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur memperkuat produksi pangan dan target swasembada beras 2026. Wakil Gubernur Kaltim Dr. H. Seno Aji yang meninjau langsung demplot menekankan pentingnya mereplikasi inovasi pertanian yang telah terbukti meningkatkan produktivitas.
Bagi Politani Samarinda, keberhasilan di Gapoktan Mandiri menegaskan komitmen kampus untuk menghadirkan pendidikan vokasi, inovasi, dan teknologi terapan yang memberikan dampak langsung bagi masyarakat.
Peningkatan produktivitas sebesar 44,83% sekaligus penguatan kelembagaan petani menjadi pijakan penting untuk mendorong pertanian Kaltim yang semakin produktif, mandiri, berkelanjutan, dan berdaya. (HUMAS)