Politeknik Pertanian Negeri Samarinda gelar WEBINAR dengan tema “ Potensi Kelapa di Indonesia dan Pemanfaatan Produk Virgin Coconut Oil (VCO) pada hari Kamis 11 Juni 2020.  Kegiatan WEBINAR ini menghadirkan 4 narasumber yaitu Muhammad Tohier  Sekjen Perhimpunan Pengusaha Minyak Kelapa Indonesia,  Ardi Simpala dari Sahabat Kelapa Indonesia, Sri Lestari Ketua Umum PEPMIKINDO (Perhimpunan Pengusaha Minyak  Kelapa Indonesia) dan Silvia Darmans yang merupakan PLP dari Laboratorium Pengolahan Hasil Perkebunan, Politeknik Pertanian Negeri Samarinda. 

Kegiatan WEBINAR Perkelapaan ini mulai dibuka pada pukul 14.00 Wita oleh Direktur Politani Samarinda Hamka S.TP.,M.Sc.,MP. dengan menggunakan aplikasi Zoom.  Peserta yang ikut gabung dalam kegiatan ini berjumlah ±300 orang terdiri dari dosen, praktisi, peneliti, mahasiswa, petani kelapa serta masyarakat umum dari seluruh Indonesia yang tertarik dengan dunia kelapa.  Acara ini terlaksana dengan lancar berkat dukungan dan bantuan dari berbagai pihak antara lain Yulianto, S.Kom.,M.MT., Rudito S.TP.,MP yang berperan sebagai  Moderator 

WEBINAR ini dilaksanakan dengan tujuan untuk menyebarluaskan informasi kepada masyarakat luas tentang Kelapa, Potensinya serta Pemanfaatannya sebagai VCO (virgin coconut oil).   Hamka  dalam sambutannya mengatakan  sangat mengapresiasi  kegiatan Webinar ini,  karena memiliki tujuan yang baik dan diisi oleh narasumber yang punya kompetensi dibidangnya, lebih lanjut Hamka menjelaskan bahwa pohon kelapa dikenal sebagai  pohon kehidupan, dimana mulai dari akar, batang sampai buahnya bisa dimanfaatkan,   Potensi Kelapa di Indonesia sangat besar  sebagai salah satu penyumbang devisa bagi negara, salah satu produk olahan kelapa yang lagi booming saat ini adalah VCO yang sangat baik buat kesehatan karena kaya akan kandungan di dalamnya, akan membuat system imunitas kita bertambah, sehingga baik dikomsumsi apalagi pada kondisi pandemic Covid-19 ini, Pungkasnya.

Ardi Simpala selaku narasumber pertama memberikan pemaparan bahwa Kelapa Indonesia bagaikan “Harta karun yang tertimbun”, kalau dikelola diolah lebih lanjut, maka akan memberikan manfaat dan nilai yang tinggi yaitu 8 x lipat dibanding harga produk kelapa tradisional yaitu kopra, dulu orang beranggapan bahwa Indonesia adalah penghasil kelapa terbesar pertama di dunia, namun dari hasil statistic yang disampaikan oleh  International Coconut Comodity  bahwa sejak tahun 2013 sudah diambil alih oleh  India dengan produksi sekitar 22 Milyar butir. Kelapa banyak memberikan manfaat dan banyak orang bisa berhasil dari usaha kelapa ini, begitupun dilihat dari sejarah bahwa kelapa sangat dekat dengan social budaya masyarakat Indonesia jaman dulu. Lebih lanjut dijelaskan kalau dilihat dari harga, kelapa memiliki harga yang fluktuatif namun trendnya meningkat dari tahun ke tahun.  Indonesia saat ini banyak berdiri industry kelapa seperti Sambu group, Cocomas, Kokonako, Nutrifood dll yang mengolah kelapa menjadi produk yang bernilai tambah ekonomis seperti santan kara, coconut milk dll.

Narasumber kedua Bapak Muhammad Tohier pada kesempatan tersebut memaparkan tentang  Prospek Pasar Local Dan Global Produk Olahan Kelapa yang merupakan ilirisasi produk kelapa.  Indonesia dari hasil data pertanian bahwa Indonesia memiliki luas tanamam sebesar 3,5 juta Ha dan diproyeksikan mencapai 3,7 juta Ha pada tahun 2030, memiliki produktivitas 1,2 ton kopra/ha/tahun, sedangkan negara tetangga Philipina memiliki luas tanam 3,6 juta Ha sejak tahun 2017 dengan produktivitas 3,8 ton/ha/tahun.  Untuk VCO philipina bisa mengekspor ke USA 595.000 metrik ini sekitar 33 % dari total produk Coconut Oil.  Sementara Indonesia tahun 2018 hanya bisa mengekspor 1.500 ton ke beberapa negara Eropa seperti Belanda, ini berarti bahwa Indonesia bukan lagi negara terbesar pengekspor produk olahan kelapa di dunia.  Prospek olahan kelapa dilihat dari posisi industry olahan kelapa di Indonesia bahwa  kelapa berada posisi ke 4 dalam nilai ekspor komoditas utama perkebunan setelah kelapa sawit, karet, dan kakao. Ujarnya.

Sementara itu Sri Lestari atau biasa disapa Tari menjelaskan terkait Strategi Dan Kiat Praktis Pengembangan Usaha Dan Pasar VCO.  Untuk mengembangkan usaha dibutuhkan Passion seperti : Sabar, terus berusaha, jangan mudah menyerah dan terus belajar untuk mengembangkan, mulai dari kecil tapi selalu konsisten untuk terus bekerja, yang perlu diperhatikan adalah MUTU, dengan mutu yang baik akan membangun kepercayaan konsumen, begitupun dengan Branding, harus dibangun dengan baik.  Lebih lanjut   bahwa  untuk mengembangkan produk VCO dan turunannya, kita harus yakin dulu bahwa produk VCO tersebut memiliki banyak manfaat dan khasiat,  VCO dapat dimanfaatkan menjadi produk kesehatan, kecantikan dan perawatan tubuh.  Prospek Pengembangan VCO ini masih terbuka lebar karena  Indonesia memiliki 250 juta penduduk yang merupakan target pasar yang masih terbuka luas, Ujarnya.

Narasumber terakhir yaitu Silvia Darmans, SP.,M.Si.  dalam Webinar ini memaparkan tentang proses pengolahan VCO secara sederhana dengan alat sederhana yang bisa dikerjakan dirumah,  ada beberapa proses pembuatan VCO yaitu cara mekanik, enzimatis, pancingan  dll, perbedaan cara ekstraksi akan mempengaruhi mutu minyak yang dihasilkan dan daya simpannya, sehingga teknologi pengolahan VCO berpengaruh pada karakteristik VCO yang dihasilkan.  Banyak kandungan dari VCO seperti asam lauratnya tinggi yang bisa memiliki sifat antibiotik, anti bakteri, anti virus, dimana asam laurat ini dapat dengan mudah dicernah oleh tubuh kita, paparnya. Pada kesempatan ini silvia menjelaskan pembuatan VCO dengan proses mekanik serta tahapan prosedur pengolahannya.  

Peserta Webinar Perkelapaan ini sangat antusias dan bersemangat untuk mendengarkan hingga akhir karena ingin menambah wawasan mereka bagaimana potensi, pemanfaatan kelapa dan proses pengolahan VCO yang lagi booming bisa sebagai anti virus dijaman pandemic covid-19 ini.   (Humas/AL)