Samarinda (30/7/2019).  Upaya menghadapi perkembangan revolusi industri 4.0 serta mewujudkan mutu Pendidikan, institusi Politeknik Pertanian Negeri Samarinda menyelenggarakan Workshop Penyempurnaan Kurikulum yang digelar di Ruang Confrence Room Hotel Grand Sawit, Samarinda  Kalimantan Timur. Kegiatan ini berlangsung  selama sehari diikuti oleh Dosen yang terdiri dari Asdir 1, II, IV, Ketua Jurusan, Koordinator program studi dan perwakilan dosen dari masing-masing prodi dalam lingkup Politani, dengan menghadirkan narasumber bapak  Dr. Drs. Ludfi Djajanto, MBA pakar kurikulum dari Politeknik Negeri Malang (Polinema). 

Kegiatan workshop ini dibuka secara resmi oleh Direktur  Politeknik Pertanian Negeri Samarinda  Hamka S.TP.,M.Sc.,MP. Materi workshop diisi dengan Revitalisasi Perguruan Tinggi Vokasi, pengembangan kurikulum berbasis KKNI dan SNPT yang dipaparkan oleh Dr. Drs. Ludfi Djajanto, MBA.

Workshop ini bertujuan untuk menghasilkan kurikulum  yang sesuai dan relevan dengan perkembangan teknologi, tuntutan masyarakat dan tuntutan dunia kerja. Seiring dengan perkembangan dan perubahan zaman serta kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, maka sangat dibutuhkan juga suatu perubahan terhadap kurikulum yang digunakan  dalam proses pembelajaran  sehingga apa saja  yang dibutuhkan dapat di jawab berdasarkan kurikulum yang ada. Dalam sambutannya pada acara workshop tersebut  Hamka S.TP.,M.Sc.,MP., selaku Direktur  Politani berkata, “Dalam menghadapi era industi 4.0, kita harus mempersiapkan dengan baik para alumni kita agar menjadi lulusan yang handal dan siap menghadapi persaingan dalam dunia kerja,   selain itu lebih lanjut Hamka menjelaskan tentang keinginannya untuk selalu memajukan Politani dengan terus menyelaraskan program-program Kemenristekdikti dalam upaya memperbaiki mutu Pendidikan sehingga Politani harus selalu melakukan penyempurnaan kurikulum yang mampu menjawab seluruh kebutuhan stakeholder dan user, serta mahasiswa yang memiliki kompetensi yang membuat mahasiswa mampu bersaing tidak hanya ditingkat lokal maupun regional, tetapi juga tingkat nasional, Politeknik akan diupayakan lebih maju dari perguruan tinggi lainnya, karena Politeknik merupakan penyumbang tenaga profesional di Indonesia. 

Dr. Drs. Ludfi Djajanto, MBA dalam pemaparannya menjelaskan bahwa “Kurikulum harus seiring dan sejalan dengan pendidikan vokasi yang diselenggarakan di Politani yaitu menekankan pada keterampilan dan pendidikan sehingga lulusan Politani  memiliki keterampilan yang bisa diakui didunia kerja serta  dapat memenuhi kriteria jenjang 5 yang dipersyaratkan dalam Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI). Lebih lanjut narasumber dalam pemaparannya menjelaskan bahwa banyak permasalah-permasalahan yang muncul pada lulusan perguruan tinggi saat ini seperti Ketidaksesuaian kebutuhan dan ketersediaan, kemampuan lulusan akan Bahasa inggris (English Proficiency), Leadeship dan IT, pekerjaan kurang relevan, Lulusan kurang kompetitif, kemampuan komunikasi baik lisan dan tulisan yang rendah dll, Sehingga dibutuhkan revitalisasi perguruan tinggi pada kurikulum. “Program revitalisasi pendidikan tinggi vokasi ini menerapkan sistem 3:2:1. Tiga semester aktif di kampus, dua semester di industri, dan satu semester akhir di kampus atau industri,”.  Kebijakan ini diambil dalam menghadapi era Revolusi Industri 4.0.  Untuk menjalankan Revitalisasi  kurikulum 3:2:1 perlu memperkuat  Learning skill, Reading Skill, Writing skill serta SKS Bahasa Inggris perlu ditambahkan hal ini sebagai upaya bagaimana memberdayakan atau membuat politeknik memiliki hasil lulusan yang siap kerja sesuai dengan yang dibutuhkan industri, atau dibutuhkan oleh masyarakat. Juga sebagai upaya menjawab tantangan terkait kebutuhan sumber daya manusia siap kerja. Revitalisasi politeknik merupakan tuntutan persaingan dunia kerja yang membuat perguruan tinggi (PT) vokasi negeri dan swasta mampu meningkatkan Sumber Daya Manusianya. 

Program  Revitalisasi kurikulum 3:2:1 yang  diwacanakan oleh Kemenristekdikti ini masih berupa himbauan belum dituangkan dalam peraturan perundangan dan jikapun ini dilakukan perlu penataan secara bertahap dan diperlukan  kesiapan Politeknik untuk menjalankan program tersebut, karena dalam pelaksanaannya akan banyak ditemui masalah-masalah,  Seperti diperlukan banyak kerjasama dengan pihak perusahaan/industry dan masih banyak persoalan lain yang akan muncul Begitupun  dengan program pola Multi Entry Multi Exit (MEME) di pendidikan Politeknik dengan stratifikasi Diploma IV, Dengan sistem Multi Entry setiap program bisa masuk di awal tahun pertama, awal tahun kedua, hingga tahun keempat. Begitupun dengan sistem Multi Exit, berarti keluar program bisa di akhir tahun kedua, ketiga, atau keempat. Sehingga betul-betul butuh perencanaan dan kesiapan untuk melaksanakan program tersebut, selama  belum ada aturan dan masih himbauan maka hak politeknik untuk memilih melaksanakan atau tidak ujar bapak Ludfi Djajanto.  (Humas/AL)