Gandeng Dinas Kesehatan Provinsi Kaltim Politani Peringati Hari AIDS sedunia

Peringatan hari AIDS sedunia yang jatuh setiap tanggal 1 Desember juga diperingati di Politani Samarinda tahun 2018 ini. Penggagas acara peringatan di Politani adalah UKM Musik Politani Samarinda. Acara yang dibalut dengan pentas musik tersebut cukup menarik minat mahasiswa di Politani Samarinda. Selain pentas musik, UKM Musik Politani juga menggelar pelatihan untuk volunteer HIV/AIDS  dengan menggandeng Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Timur. “Tema Kami tahun ini adalah mari berkarya untuk mencegah HIV/AIDS pada generas muda Indonesia” ujar Alif Amanda, Ketua UKM Musik Politani Samarinda yang didampingi wakilnya Mustafa Muli.

Selain untuk menggugah kesadaran sivitas akademika Politani Samarinda tentang adanya peringatan hari AIDS, acara tersebut juga ditujukan untuk mengingatkan kepada semua pihak bahwa penyakit AIDS  masih merupakan penyakit mematikan yang belum ada obatnya. Pengobatan yang dilakukan pada penyandang AIDS sejauh ini adalah baru sekadar upaya pengendalian perkembangan virus HIV agar tidak menyebar terlalu jauh. Belum sampai pada tahap penyembuhan.

Di sisi lain, penyandang AIDS ini ternyata tidak menyadari bahwa dirinya tertular penyakit tersebut. Menurut penelitian di Amerika menyebutkan bahwa 5 dari 10 penyandang AIDS tidak menyadari bahwa dirinya tengah mengidap penyakit yang disebabkan oleh virus HIV ini. Sebab gejala seseorang tertular AIDS seringkali belum terlihat di fase awal. Infeksi berat berulang yang merupakan salah satu tanda penyakit AIDS seringkali baru muncul pada fase akhir penyakit. Akibatnya deteksi dini terhadap penyakit ini terlambat diketahui.

Perkembangan jumlah penyandang HIV/AIDS di Kaltim dan di Indonesia sejauh ini juga masih merupakan angka prediksi. Angka yang ada saat ini hanya seperti puncak gunung es. Jumlah sebenarnya jauh lebih besar. Salah satu sebabnya adalah sebagian besar penyandang penyakit HIV/AIDS merasa malu untuk melaporkan dirinya kepada pihak yang berwenang. Masyarakat masih menghukum para penyandang AIDS dengan cara mengucilkannya.  Karena dianggap telah melanggar nilai sosial yang ada. Sebab masyarakat hanya tahu bahwa penyebaran HIV/AIDS terjadi akibat seks bebas dan pemakaian jarum suntik secara bersama. Perilaku pemakaian jarum ini biasa dilakukan pemakai narkoba.

Walau demikian, Alif mengharapkan agar sivitas akademika Politani Samarinda tidak menghindari atau bahkan menghukum penderita AIDS. Sebab penyakit AIDS tidak menular melalui udara, berbincang-bindang atau pun bersalaman. Penderita AIDS perlu mendapatkan dukungan dan semangat dari lingkungannya agar memiliki semangat hidup yang lebih tinggi.

Direktur Politani Samarinda Hamka menyambut baik ide dan karya mahasiswa Politani Samarinda. “Selama kegiatan mahasiswa itu untuk hal positif, Kami pengelola selalu mendukungnya” pungkasnya. (bz)